UKM CINEMA; NOBAR DAN DISKUSI FILM TURAH.

TEGAL_. Pada hari Kamis (8/11) film Turah mengadakan kembali  Nonton bareng (NOBAR)  dan diskusi bareng di Auditorium Politeknik Harapan Bersama Kota Tegal . NOBAR Film Turah ini di hadiri oleh semua kalangan masyarakat yang ada di wilayah Tegal, Brebes. Nobar Film Turah ini juga di hadiri oleh Wakil Direktur 3 Bidang Kemahasiswaan Umi Baroroh, Ahmad Rozali  selaku kepala pusat  dan Dr. H Fikri anggota 10 DPR RI.

Dengan  tujuan diadakanya  NOBAR ini agar masyarakat tahu bahwa di kota Tegal sendiri memiliki film yang bagus dan memiliki prestasi yang gemilang, Film Turah ini berdurasi 83 menit. “ film Turah ini sudah tembus ke nasional  ’’ kata Umi Daroroh

Dalam perjalanannya, film turah sempat mengalami beberapa penolakan seperti yang di utarakan oleh sang sutradara. Di tahun 2014 sudah mencoba untuk menyodorkan naskah dan hasilnya di tolak, kemudian di awal tahun 2016 mencoba untuk kembali menyodorkan naskah tersebut pada produser namun masih di tolak, dan saat kembali menyodorkan naskah tersebut di akhir 2016 akhirnya naskah tersebut dapat di terima produser.

Film Turah merupakan sebuah  film Indonesia yang menggunakan Bahasa Tegal yang dirilis pada tahun 2016, film ini disutradarai oleh Wicaksono Wisnu Legowo,  dan di bintangi oleh beberapa aktor atau aktris seperti Ubaidillah ( Turah ), Slamet Ambari ( Jadag ), Yono Daryono ( Darso ), Rudi Iteng  ( Pakel), Firman Hadi (Sensus 1 ), Bontot Sukandar ( Kandar ), Narti Diono ( Kanti ).

Film tersebut berdiri di atas tanah timbul di pesisir pantai utara, dekat dengan Pelabuhan  Tegalsari  Kota Tegal, menceritakan tentang  kehidupan warga di Kampung Tirang yang miskin dan tertinggal, kampung ini bisa dibilang tak tersentuh listrik. Bahkan, warga kerap sekali kesulitan air bersih.

Akibat krisis ekonomi yang di alami kampung tirang itu menimbulkan masalah bagi Jadag , pria  yang dikenal sebagai pemabuk, melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan . Dia tidak terima  tanah kelahiranya di kuasai oleh seorang juragan yang bernama Darso.

Sebagai  orang yang berhak memiliki tanah timbul tersebut, Darso mempekerjakan orang- orang di kampung tirang tersebut dengan upah yang sedikit, Jadag berfikir apa yang  dilakukan Darso itu telah memanfaatkan warga kampung demi kepentingan sendiri.

Semenjak Pakel memihak  kepada Darso, warga merasa tenaganya ditekan  terus menerus dan disaat  masyarakat mengalami penderitaan karena kemiskinan, pakel yang baru bekerja Selama tiga tahun sudah mempunyai  tanah  dan rumah.

Jadag yang berwatak frontal itu berbanding terbalik dengan Turah yang memilliki watak dengan gaya hidupnya yang sederhana dan tidak neko-neko, selalu menerima apa adanya pemberian dari Darso. Dia sendiri tinggal di gubuk reyot bersama istrinya, Kanti (Narti Diono).

Dengen mengemas cerita dan masalah yang cukup sederhana sang sutradara nampaknya sangat ahli mengambil hati para penikmat perfilman dalam negeri bahkan dunia, terbukti dengan di raihnya beberapa penghargaan yang di raih oleh Film atau Pemain Turah baik dalam negeri dan luar negeri.

Sekaligus menyabet 3 penghargaan dalam negeri berupa skenario terbaik, sutradara terbaik sampai Aktor terbaik, menunjukan Turah di buat sangat serius oleh sang sutradara.

Kesuksesan Film turah memang tidak bisa di anggap remeh, dengan adanya Film turah ini sangat banyak sekali keberkahan yang di terima baik pemain dan para krew, tak terkecuali Pak Ambali sang pemeran Jadag yang saat ini semakin terkenal dan banyak menerima kontrak Film.

 

Penulis: Mulki, Bayu, Ozi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *