BEM 2018, SIAP MENGABDI KE MASYARAKAT.

“…Berikan aku sepuluh pemuda maka akan aku guncangkan dunia!!” (Ir. Soekarno).

Dari kutipan diatas kita bisa menilai sebesar apa kemampuan dan potensi pemuda menurut founding father kita sebagai agent of change, agen perubahan. Lalu Mahasiswa adalah kaum intelek muda yang (seharusnya) menjadi garda terdepan dalam memperbaiki kondisi bangsa, yang juga seharusnya menjadi pemicu untuk perubahan masif oleh pemuda Indonesia. Apabila terjadi ketidakadilan, mahasiswalah yang harus pertama kali menyadarinya, sehingga tak salah apabila mahasiswa dikatakan sebagai penyambung lidah rakyat.

Pengabdian masyarakat adalah suatu gerakan proses pemberdayaan diri untuk kepentingan masyarakat. Pengabdian masyarakat seharusnya bersifat kontinual dan jangka panjang karena dalam membangun sebuah masyarakat dibutuhkan proses yang panjang. Banyak aspek yang harus disentuh untuk menjadikan suatu masyarakat itu baik, karakternya, budayanya, sampai pola pikirnya juga harus kita sentuh untuk benar-benar menciptakan sebuah masyarakat yang beradab.

Lewat pengabdian masyarakat inilah, point dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi benar-benar tertanam dalam diri mahasiswa. Lewat Program kerjanya Badan Eksekutif Mahasiswa 2018 Divisi Sosial, dengan diketuai oleh Ifane Prodi D3 Akuntansi, Gerakan Djitu Mengajar angkatan 3 siap mengabdikan diri ke Oemah Sinau Mejasem Timur, Tegal.

Pada tanggal 7 Juli kemarin, team Genjim angkatan 3 perdana bertemu warga sekaligus bertemu langsung dengan keluarga pendiri “Oemah Sinau” tersebut. Dengan total 46 mahasiswa dari berbagai jurusan, siap mengabdikan diri dalam pengabdian masyarakat. Dalam kunjungan perdananya, team Gendjim ini sendiri di sambut oleh Roni dan Beny sebagai salah satu kepala Desa setempat.

“Oemah Sinau ini sudah berdiri sejak 2 tahun lalu dan sudah di bantu oleh berbagai kalangan, mulai dari 1001 buku dengan memberikan sumbangan buku, dan  Oemah Sinau,ini sudah ada yang mengajukan ke Aku Bisa Millenium Dunia.” Ujar Roni salah satu keluarga dari pendiri Oemah Sinau tersebut. “Namun kendalanya adalah masih pada team pengajarnya yang belum ada, sehingga selama dua tahun ini Oemah Sinau hanya berdiri seadanya buat bermain anak-anak tanpa ada agenda belajar”, Tambahnya.

Oemah Sinau sendiri, didirikan oleh Siti Azmi Faiqoh, warga asli Mejasem, Tegal. Yang mengenyam pendidikan S1 di Universitas Negeri Surabaya lewat fakultas Pendidikan Bahasa Inggris dan melanjutkan Magister di Universitas Indonesia wisuda pada tahun 2014. Kecintaanya terhadap tanah kelahiran dan anak-anak lah yang membuat Azmi membangun Oemah Sinau ini.

Gerakan Djitu mengajar ini sendiri, merupakan rangkaian acara Rumah belajar bersama anak-anak sekitar. Yang akan di bagi per kelas dengan di dampingi oleh para mahasiswa relawan pengajar. Mulai dari kelas kecil hingga kelas besar. Rangkaian kegiatan ini sendiri, akan mengabdi selama satu bulan dengan beberapa agenda belajar. Agenda Rumah belajar bersama Oemah Sinau mulai aktif per 14 Juli, Hari Jumat sampai sabtu di buka bimbingan belajar pukul 3-5 sore, sedangkan untuk di hari minggu di buka jam 9 sampai 12 siang.

 

 

Penulis: Novrizal Ryanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *