Tingkatkan Budaya Literasi dengan Berkunjung ke Perpustakaan

 

Keberadaan perpustakaan baik perpustakan umum, perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan sekolah, merupakan peran penting untuk mendukung sarana terbentuknya masyarakat yang cerdas. Perpustakaan berfungsi untuk mengumpulkan, mengelola dan menyediakan buku, jurnal, majalah dan bahan kepustakaan lain sebagai gudang ilmu dan pengetahuan.

Dengan sekali berkunjung ke perpustakaan kita mendapatkan seribu manfaat. Di perpustakaan kita dapat membaca koleksi buku yang sudah dikurasi oleh perpustakaan dengan gratis tanpa dipungut biaya. Selain itu perpustakaan juga menawarkan ketenangan yang membuat pengunjung betah berlama-lama membaca ataupun menulis. Dari hal itu dapat membentuk sebuah kebiasaan yang baik, seperti gemar membaca dan menulis. Hingga  memiliki kemampuan membaca dan menulis yang baik atau biasa disebut dengan literasi.

Dengan literasi yang baik kita dapat mengetahui sejauh mana kredibilitas sumber bacaan atau media yang sering kita baca. Sehingga kita tidak mudah percaya pada jenis-jenis bacaan yang belum jelas sumbernya. Masyarakat yang memiliki literasi adalah masyarakat yang telah mengerti, menyadari, memahami dan menggunakan tulisan (bacaan dan sumber informasi). Masyarakat yang memiliki budaya baca tinggi harus terus diimbangi dengan penyediaan fasilitas seperti perpustakaan dan bahan bacaan yang memadai sesuai kebutuhan masyarakat (Priyanto, 2007). Hingga tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjadi pemburu informasi dan ”melek informasi” dalam memenuhi kebutuhannya. Begitu pentingnya literasi bagi kehidupan manusia, terlebih di era digital seperti sekarang ini. Namun, hal ini masih berbanding terbalik dengan fakta budaya literasi di Indonesia.

Berbagai laporan dari lembaga kompeten, baik nasional maupun internasional, baik pemerintah maupun institusi non pemerintah (Non Governmental Organization) menunjukkan bahwa indeks minat baca dan tingkat literasi masyarakat Indonesia masih sangat rendah dan memprihatinkan. UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) misalnya, pernah merilis data yang menunjukkan bahwa indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001. (Sumato Al Qurtuby, 2017)

Di era digital ini mampir semua masyarakat mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas setiap harinya tidak bisa lepas dari penggunaan smartphone. Smartphone semakin mempermudah masyarakat dalam melakukan aktivitas apapun, begitu juga dengan aktivitas membaca. Melalui smartphone kita dapat membaca dan mencari informasi dengan sekali sentuh. Tetapi dari kemudahan itu, justru menjadikan masyarakat menjadi kurang hati-hati dalam mencari informasi atau bacaan yang mereka inginkan. Sebagian besar masyarakat hanya ingin mencari yang serba praktis, cepat dan tidak memakan waktu. Fakta di atas semakin didukung dengan banyaknya masyarakat yang mudah mempercayai berita hoax.

Mengetahui sejauh mana kredibilitas sumber bacaan, mulai dari penulis,buku hingga media merupakan suatu hal yang perlu kita pahami dan cermati. Karena budaya literasi harus terus diimbangi dengan penyediaan fasilitas seperti perpustakaan dan bahan bacaan yang memadai.

Oleh karena itu, perpustakaan menjadi suatu alternatif bagi kita untuk mencari sumber bacaan yang baik dan terpercaya dalam memerangi hoax serta mendukung terbentuknya masyarakat yang cerdas.

Penulis : Rieka Trisnawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *