Masyarakat Yang Terkondisikan

Pernahkah anda secara tidak sengaja mendengar musik di terminal, stasiun, warung, kopi, mall, rumah makan atau tempat-tempat umum lainnya? Apakah kita menyadarinya atau bahkan menikmatinya? Secara massif musik telah tersebar di mana-mana, baik melalui radio, televisi, komputer ataupun handphone. Musik menjadi seperti barang yang mudah dibawa ke mana-mana. Di abad 21 ini kemunculan format audio MPEG-1 Audio Layer 3  atau yang sering kita sebut dengan mp3, memudahkan kita untuk mendegarkan musik cukup dengan sekali sentuh melalui aplikasi pemutar musik yang ada di handphone kita. Namun jika musik itu selalu terdengar di tempat-tempat umum dan menjadi konsumsi masyarakat kita sehari-hari, maka apa dampak yang akan terjadi?

Secara sadar ataupun tidak sadar kita sering mendengarkan musik di tempat-tempat umum seperti mall, kafe, pasar, terminal, dll. Musik tersebar di mana-mana layaknya “fasilitas umum”. Penyebarannya hampir sama dengan toilet. Bedanya, toilet selalu ditempatkan di tempat yang “spesial” kalau musik tempatnya sering tak menentu, tersebar dan tercecer di mana –mana seperti sampah.

Adapun juga manfaat penyebaran musik di tempat-tempat umum seperti di mall atau pusat-pusat belanja yaitu untuk mereduksi ketegangan atau kelelahan pengunjung. Dengan mendengarkan musik yang “menyenangkan” dan easy listening tanpa disadari pengunjung akan lebih betah melihat-lihat dan tergoda untuk belanja. Begitu juga saat di restoran cepat saji atau kafe, jika playlist musik yang diberikan tidak dapat membuat pengunjung berleha-leha maka tanpa disadari pengunjung akan segera menyelesaikan makanan atau minumannya lalu pergi. “Fasilitas umum” berupa musik tersebut telah menciptakan fenomena musik di tempat-tempat umum dan terus menerus tanpa disadari telah “mengondisikan” selera musik masyarakat kita. Apresiasi selera dan persepsi makna musik pun bergeser, dari halnya yang bersifat renungan (kontemplasi) menjadi gairah (sensasi); dari rasa (ethik) menjadi rangsangan atau sensualitas. (Suka Hardjana – Corat–Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini).

Alm. Harry Roesli dalam makalahnya “Pancasi-tuasi” – Retropeksi & ancangan ke depan: Proceeding kongres kesenian Indonesia 1 Tahun 1995, telah menanyakan kembali bagaimana nasib estetika musik di Indonesia. Dia menyebutkan bahwa musik yang ingin “berbicara” sulit untuk sampai dan terdengar kepada masyarakat. Masyarakat sudah “dikondisikan”. Masyarakat menerima musik di mana-mana, namun hanya dengan bahasa musik yang sama yaitu bahasa musik populer atau pop.

(Celakanya) memang hampir semua musik yang diputar di tempat-tempat umum adalah musik pop. Padahal kita ketahui bahwa saat ini banyak (tidak semua) musik pop yang tidak “berbicara”, kebanyakan tema lagunya hanya berisi tentang fantasi-fantasi populer, cinta (yang dangkal) dan ujung-ujungnya patah hati, galau atau bikin baper. Musik tersebut diproduksi secara “sengaja” untuk hiburan dan kebutuhan “pasar”. Mengandalkan syair lagu yang ringan, ketukan birama yang melulu 4/4 dan aransemen musik yang dibuatnya menjadi easy listening.

Musik selalu mempunyai bahasanya sendiri yang unik dan beragam. Melalui bahasanya, musik dapat dengan mudah “berbicara” atau berkomunikasi kepada individu maupun masyarakat. Namun jika bahasa yang telah disepakati dan disukai hanya bahasa musik yang populer seperti yang terdengar di “fasilitas umum”. Lalu bagaimana caranya agar masyarakat mau menerima bahasa musik yang lain? Khususnya musik-musik yang jarang terdengar di tempat-tempat umum seperti musik-musik tradisional Indonesia.

Kita akan merasa asing jika bukan musik popular (top 40 hits Indonesia ataupun Amerika) yang diputar di tempat-tempat umum seperti mall. Kita akan merasa asing jika tiba-tiba kita mendengarkan gamelan, paduan suara masyarakat papua yang diiringi oleh tifa, atau iringan musik tari saman pada saat masuk ke mall. Kita telah menjadi orang asing untuk budaya kita sendiri.

Jika kita kembali membayangkan masuk ke mall atau ke tempat-tempat umum lainnya, kemudian kita selalu mendengar sayup-sayup musik tradisional, jalan beberapa meter lagi mendengar musik tradisional yang lain lagi. Apakah masyarakat jadi “terkondisikan” kembali menyukai keunikan dan keragaman musik-musik di Indonesia (bukan musik pop melulu)?

Penulis: Gendra Wisnu Buana (Staff Humas Poltek HB & Penikmat Musik)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *