Mural dan Eksistensinya

Dinding kerap kali dianggap hanya sebagai pembatas antar ruang atau sebagai unsur yang harus ada dalam suatu ruangan. Akan tetapi melalui seni dinding tak lagi dianggap demikian, dinding bisa dijadikan sebagai sebagai media untuk memperindah ruangan. Mural adalah salah satu lukisan dinding dengan memanfaatkan permukaannya sebagai media utama bagi para para  seniman dalam berkreasi menggunakan cat.

Pada jaman prasejarah dalam perkembangannya, sudah ada aktifitas sejenis yaitu manusia-manusia yang melukis pada dinding-dinding goa, dengan menggunakan bahan yang alami. Dalam penggambarannya bertemakan ritual atau kepercayaan seperti binatang yang  terkena tombak.  Dalam penggambarannya  secara realistis namun dalam karakternya sangat kuat.

Begitu pula pada lukisan-lukisan dinding yang ditemukan pada gereja-gereja selain untuk memperindah juga berfungsi sebagai pemahaman akan agama. Karena pada masa itu sedikit yang dapat membaca.

Ketika era seni modern muncul kira-kira pada abad 17, para seniman bebas menggunakan media dan visualisaasi apa saja. Kebebasan individualitas dan ekspresi mulai berkembang pada abad ini hingga sekarang.

 

Mural sendiri bukan hanya ajang untuk kepentingan seniman dalam mengekspresikan karyanya, akan tetapi mural diciptakan untuk kepentingan publik. Karena mural sendiri berkaitan dengan orang yang tinggal disekitar dan orang yang lalu lalang melewati area terdapatnya mural.

Ada beberapa mural yang menarik untuk dilihat serta menampilkan pesan seniman melalui visual dari karyanya akan tetapi ada beberapa mural yang membuat tidak nyaman dipandang. Dalam pembuatan mural ada beberapa hal yang harus diperhitungkan, dari tempat, bahan dan konsep dari pada mural itu sendiri. Karena mural akan dilihat oleh orang banyak dan tidak seperti lukisan atau gambar di kertas yang kecil maka mural dalam pengerjaan dibutuhkan pengetahuan khusus dari segi tekniknya. Perlu juga adanya pemahaman komunikasi publik dengan visual karena tidak etis ketika seniman hanya memikirkan ekspresi diri semata karena mural ini akan berkaitan dengan lingkungan sekitar. Untuk itu disarankan dalam penciptaannya seniman mencetuskan ide atau gagasan dalam visualisasi mural dengan mementingkan kepentingan publik. Seperti bertemakan  budaya dari lingkungan sekitar. Serta harus memperhatikan jarak pandang karena yang kita lihat bukan pada media kanvas kecil akan tetapi dinding dengan ruang yang luas, biasanya semakin tinggi kita memandang titik pandang kita semakin mengecil dan semakin keatas mural semakin diperbesar dengan merubah proporsinya.

Aspek lain yang harus diperhatikan adalah ketersediaannya ruang atau media, maka mural yang terorganisasi dengan pemerintah kota dengan ikut serta mendanai atau menyediakan ruang bagi para seniman maka mural akan menjadi tren atau hal yang dapat memperindah suatu susunan tata kota. Latar belakang kesenimanan seorang seniman juga mempengaruhi dalam memahami kepentingan publik serta sejauh mana penguasaan bahan dan teknik serta bagaimana meng eksplorasinya.

Berbeda ketika mural yang tidak terorganisasi maka mural hanya akan membuat gerah pandangan mata dengan tercampurnya coretan-coretan serta bentuk dan isi konten yang tidak sesuai dengan lingkungan  dapat berpengaruh dengan moral masyarakat.

Yogyakarta adalah salah satu kota yang mendukung adanya mural dan banyak seniman-seniman yang  berkumpul di kota ini. Di Setiap sudut-sudut jalan pada dinding ataupun pagar bangunan bisa ditemukan berbagai gambar  mural. Dibalik Yogyakarta sebagai kota seni, ada pemerintah kota yang dengan senang hati mengapresiasi para seniman-senimannya serta adanya komunitas seniman apotik komik yang eksis dalam penciptaan mural komunitas ini juga pernah bekerja sama dengan komunitas publik daru san Francisco.

Sama halnya di Tegal, pemerintah kota mulai mengapresiasi para seniman mural, dengan mengagendakan lomba mural memperingati Hut Tegal ke 437  di Balai kota tepatnya tanggal 2 April 2017 yang hasilnya dipamerkan di Balai Kota Tegal, salah satu langkah awal bagi para seniman untuk menjaga eksistensinya. Selain itu mural dapat dijadikan sebagai ajang promosi  suatu daerah dengan tatanan kota yang penuh dengan visual serta warna dapat menjadikan ciri khas dari suatu kota.

Penulis: Oktaviani Resti

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *